Senin, 09 Juli 2012

SHINee FanFiction : Your Happiness Is My Happiness As Well (part 3 End)



Title       : Your Happiness Is My Happiness As Well (part 3 End)
Author : Icha putri
Cast       :
·         Park Hyu Rin
·         Choi Minho
·         Kim kibum (key ‘SHINee’)
·         Lee Taemin
·         Lee JinKi (onew)
·         Kim Jonghyun
Genre   : sad romance,  tragedy, friendship

Hello sobat girl, ini Fanfiction Part 3 End, tapi belum juga ada komentar L. Girl jadinya bingung, FF buatan girl itu bagus atau jelek L. Please sobat girl kalian koment FF yang terakhir ini.. ya.. ya!. Girl tunggu loh komentnya. Enjoy to read this. J


“…  Sengil cukhae ha.. mi… da.. Happy birthday Hyu… Rin….” Suara lembut Key mengakhiri lagu yang ia nyanyikan dengan iringan dentingan Piano yang di mainkan Jonghyun Oppa. Aku pun tersenyum ketika Key yang melihat ke arahku dengan senyuman.
Aku sangat senang dengan semua yang Key lakukan untukku, Key pun selalu ada disaat aku membutuhkannya. Key pun turun dari mimbar tempat ia berada, Ku kira Key akan datang padaku, tetapi tidak?. Key berjalan begitu cepat hingga menerobos orang-orang yang berada dibawah mimbar, Key berjalan menuju pintu keluar. Tiba-tiba handphoneku bergetar, ternyata ada Short Massage yang masuk ke handphoneku.  ‘Datanglah kehalaman belakang rumahmu sekarang’ begitulah isi dari pesan yang ku dapat, tak ada nama dari pengirimnya, hanya ada nomor telephone yang tertera di atasnya. Aku pun ragu  untuk datang kesana, tetapi aku penasaran, rasa penasaran ini begitu besar, sehingga mengalahkan rasa takutku itu. Aku pun  memantapkan hati ku untuk menuruti rasa penasaranku dan melangkah perlahan.
Kulihat dari sudut ke sudut di halaman belakang, tapi tak ada satu orang pun. Aku pun menyusuri halaman rumahku itu untuk memastikan ada seseorang yang memang benar mengirimkan peasan itu. Apakah itu Minho? Ahhh ani.. yang benar saja kau Hyu rin, tidak mungkin Minho yang mengirimkan pesan itu. Batang hidungnya saja pun tak terlihat sejak awal acara pesta ini, padahal aku sudah memintanya untuk datang.
“Hyu rin-aah.. ternyata kau datang juga” ucap seorang Namja yang suaranya berasal dari belakang ku. Sontak aku langsung  membalikan badanku.
“ahh.. Key? Sedang apa kau disini?
Key pun tersenyum padaku dan berjalan mendekatiku “Akku orang yang mengirim pesan itu padamu”
“Mwoo? Jadi itu kau key?” ucapku sambil mengerutkan dahi karena heran, “Ada apa kau menyuruhku kesini?”
Key tak langsung menjawab pertanyyanku itu. Namja itu melangkahkan kakinya untuk mendekatiku lagi, lebih dekat dan lebih dekat lagi
“Hyu rin-ahh.. kau adalah seorang Yeoja yang cantik, baik dan juga seorang Yeoja yang manis. Hanya orang bodohlah yang menyianyiakan dirimu ini. “ ucap key sambil menaruh  kedua tangannya di pipiku “Minho adalah seorang yang Namja yang sangat beruntung, karena dia bisa memilikimu Hyu rin, tapi ia adalah seorang Namja yang sangat bodoh karena melepasmu begitu saja”
Aku pun terkejut mendengar ucapan Key itu. Bagaimana Key bisa mengetahuinya? Sedangkan aku tidak pernah cerita dengannya.
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya Key?”
“ahh… sebenarnya akulah yang menyuruh Minho untuk datang ke taman malam itu, jadi aku juga berada di taman malam itu, karena aku takut kalau Minho tak menepati janjinya untuk datang ke taman. Mianhe Hyu rin.. aku  sudah mengikutimu” jelas Key yang merasa tak enak denganku.
“a aaahhh… Ye. Tak apa Key” jawabku singkat.
Tangan dingin yang ku rasakan dipipiku, membuat jantungku berdetak cepat.  Wajah Namja itu pun mendekati wajahku, Ya tuhan! Apa yang akan dia lakukan?.  Tiba-tiba hening seketika, suasana ini begitu sepi hingga suara gemericik air kolam pun terdengar jelas, tak ada satu pun orang yang  disini kecuali aku dan Key saat ini.
“Saranghae Hyu rin-ahh”
Aku terkejut ketika Key membisikan kata-kata itu di telingaku, Key membisikannya dengan lembut, sangat lembut, hingga aku merasakan sendiri kelembutan itu. Apa yang harus kukatakan? Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai sahabatku. Bibirku terkunci takbisa mengatakan apa-apa saat itu. Key pun memegang tengkuk leherku, lagi lagi Key mendekatkan wajahnya itu. Ya tuhan? Apa yang harus kulakukan sekarang? Jika ku menolaknya, aku akan melukai hatinya? Tapi…., aku hanya mencintai seorang Namja bernama Minho, Choi Minho. Bibirku masih terkunci, dan sekarang lebih rapat lagi, aku memejamkan mataku dengan erat, sangat erat, Tapi.. tak ada sesuatu yang menyentuh bibirku.  ‘Muach’ bunyi kecupan yang Key berikan di keningku, aku pun membuka mataku perlahan dan melihat kea rah Key.
“Mianhe Hyu rin, aku sudah memaksamu seperti ini. Apa yang ingin kulakukan? Jelas-jelas aku tahu kalau kau hanya mencintai Minho, Sahabat macam apa aku ini?” ucap Key sambil mengalihkan pandangannya  kea rah yang lain.
Apa yang sedang terjadi sekarang? Bibirku tetap tak bisa ku gerakan? Terasa kaku, sangat kaku. Padahal banyak sekali yang ingin kukatakan padanya.
“ahh.. Hyu rin-ahh bisakah kau melupakan kejadian malam ini? Anggaplah kejadian malam ini tak pernah terjadi di kehidupanmu” ucap Key sambil tersenyum padaku. Ya walaupun Key tersenyum tapi itu adalah senyum kebohongan yang terajut di bibir kecilnya. belum sempat ku berbicara, Key langsung melanjutkan bicaranya.
“Dimana jonghyun Oppa dan yang lainya? Aku tak melihatnya, mungkin mereka sudah pulang meninggalkanku. Baiklah.. Hyu rin-ahh sepertinya aku harus pulang sekarang. Gommawo untuk pestanya malam ini, anneyong..” ucap Key sambil melihat kearah pintu, lagi lagi aku telat untuk mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal untuknya, Key pun langsung  berlari kecil kearah pintu untuk keluar dari halaman.
***
Malam ini udara begitu sangat dingin, di banding malam-malam yang lain. Angin menerpa tubuhku  yang sedang bersandar di pagar yang berada di taman ini. Gemerlap air danau yang terkena sinar rembulan yang indah dan Semilir angin ini membuat suasana menjadi indah. Seharusnya aku tak melakukan ini, datang kembali ketempat ini dan mengingat kenanganku bersamanya. Apa yang kulakukan? Apakah jika ku mengingat kenangan itu dia akan kembali padaku? Tidak Hyu rin-ahh.. aku memang seorang Yeoja yang sangat bodoh.
Dia sudah bertunangan sekarang, mendapatkan seorang Yeoja yang ia impikan, dan dia akan hidup bahagia bersamanya.  Sudah cukup untukku mengenang kenangan yang indah namun menyakitkan itu, aku pun menyusuri jalan panjang yang begitu sepi. Aku pun menyusuri jalan itu dengan tatapan kosong dengan kepala yang menunduk, Tiba-tiba ada tiga Namja yang muncul dihadapanku, tiga Namja itu berbadan besar, berpakaian tak rapih itu menghalangi jalan ku.
Mereka mendekatiku, dan mengepungku hingga aku berada ditengah-tengah mereka. Aku berusaha untuk berlari membebaskan diri tapi salah satu seorang Namja itu menarik tanganku dengan cepat.
“Lepaskan tanganku!” ucapku sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Namja itu
“Tidak! Sebelum aku mendapatkan yang aku mau” ucapnya sambil menggenggam tanganku lebih kuat, Namja yang lainnya berusaha untuk menarik baju yang ku kenakan tapi aku melawannya.
“Tolonggg……..!” teriakku,  berharap ada seseorang yang dapat membebaskanku, tapi teriakan itu pun tak berguna, tak ada orang disini.
Mereka menarik baju hangatku dengan keras, hingga aku terjatuh. Tubuhku bergetar dan lemas, hingga aku tak berdaya, dengan sisa kemampuanku ini aku terus berusaha untuk menhindar tapi apa daya. Mereka terus mendekatiku, Ya Tuhan apa yang akan terjadi?  Aku berusaha untuk memberontak tapi mereka lebih kuat dariku.  Tak ada yang bisa kulakukan, air mataku mengalir begitu deras, aku pun menutup mataku memasrahkan apa yang akan terjadi padaku.
‘bruk’ aku mendengar suara pukulan pukulan yang keras. Aku pun membuka mataku untuk melihat apa yang sedang  terjadi. Aku melihat seorang Namja berpostur tubuh yang tinggi yang sedang memukuli salah satu Namja yang berusaha untuk menggangguku tadi.
Minho? Apakah itu Minho? Sedang apa dia disini?. Tiba-tiba dua Namja yang semula memegangiku dengan cepat mereka memukuli Minho. Tanpa bekal beladiri, perlawanan Minho tak berarti. Dalam hitungan detik dia tumbang. Mereka memukul wajah Minho, menendangnya, bahkan mereka menggunakan benda tumpul untuk menghajarnya.
Apa yang bisa kulakukan sekarang?  Aku hanya bisa menangis, Air mataku tak henti-hentinya mengalir melihat Minho dipukuli seperti itu. aku pun meraih tas yang berada disampingku, aku mulai mencari kontak Key di Phonebook ku, dan mengirmkan pesan untuknya.
Akhirnya tiga Namja itu pergi, setelah salah  satu dari mereka menerima telepon. Tapi mereka tidak langsung pergi begitu saja, mereka memberikan pukulan keras  terakhir diwajah Minho. Darah segar yang keluar dari mulutnya, membuat Minho sesak untuk bernafas. Aku pun mendekatinya, dan menarik kepala Minho kepangkuanku. Air mataku terus mengalir hingga membasahi wajah Minho yang penuh luka memar dan darah. Minho berusaha untuk membuka matanya dan melihat kearahku.
“Hyu rin-ahh…” ucapnya lirih, dan tersennyum padaku. Aku pun tersenyum di sela isakan tangis ku. Aku mendekap Minho dengan erat, sangat erat.
***
Tubuh Minho terbaring lemas diatas tempat tidur electric yang berada di rumah sakit, dengan alat bantu untuk bernafas yang terpasang dihidungnya dan  alat-alat lainya yang berada di sampinya. Aku berjalan lemas mendekatinya, dengan air mata yang berusaha membasahi pipiku lagi.
Dengan menggunakan baju berlengan pendekseperti  ini, luka memar yang ada ditubuhnya terlihat begitu jelas, hampir disekujur tubuhnnya terdapat luka memar. Aku meraih bangku yang ada disampin tempat tidur itu, dan duduk di sebelahnya. Entah bagaimana ini semua terjadi padanya? Aku sempat tak percaya dengan apa yang dikatakan dokter tadi.
Bagaimana mungkin, tubuh yang segar itu, mengidap penyakit yang sangat berbahaya, dan bisa mematikan. Kanker darah yang sangat kronis berada di dalam tubuh Minho selama 2 tahun terakhir hingga saat ini. Ku raih tangan yang pucat itu, dan ku genggam erat, ‘tidak.. tidak mungkin. Minho adalah orang yang  kuat, aku yakin dia pasti akan kembali seperti dulu’ ucap ku dalam hati sambil meyakinkan diriku sendiri. Jari-jari itu mulai bergerak, Minho berusaha untuk membuka matanya dan memandangi setiap sudut kamar.
“Minho.. apa kau sudah sadar?” ucapku sambil tersenyum senang
Mata Minho pun memutar ke arahku “Hyu rin-ahh” ucap minho dengan suara yang sangat pelan.
“Syukurlah, gwenchana Minho?”
“Ne Hyu rin, gwenchana.. hanya sedikit merasakan sakit di pundakku” jawabnya sambil merintih “Hyu rin-ahh.. bagaimana bisa kau lakukan itu? datang ketempat itu lagi? Apakah kau lupa, disaat musim dingin seperti itu tempat itu sepi sekali” ucapnya lirih
Aku terdiam, tak menjawab apapun. Minho melihat keara tanganya, melihat tanganya yang masih ku genggam, sontak aku langsung melepas genggaman itu dan mulai menjawab pertanyaanya “aku akan melupakan semua kenangan kita, dan aku akan memulainya dari sana” ucapku sambil tersenyum miris. “Sepertinya kau membutuhkan banyak istirahat Minho. Baiklah.. aku akan pulang sekarang, mungkin sebentar lagi eomma-mu akan datang” ucapku sambil melihat jam tangan yang kupakai dan beranjak dari kursi itu.
“Tetaplah disini Hyu rin, tetaplah disampingku. Jebal.. jangan pergi” suara yang lirih dan tangan yang dingin itu berusaha untuk menahanku pergi.
***
Senyuman yang tak pernah ku lihat lagi kini kembali mengembang di bibir Namja itu. Aku tak pernah melewatkan jam besuk yang diberikan oleh rumah sakit itu. Kali ini aku membawaknnya bubur Aballone buatanku sendiri dan membantunya makan bubur itu.
“a.. ..a… bukalah mulutmu ada kapal yang ingin masuk” ucapku sambil menyodorkan sesendok bubur itu.
Minho pun tersenyum “Hyu rin-ahh aku bukan lagi anak kecil sekarang” ucapnya
Aku pun tertawa kecil mendengarnya. Suatu keajaiban bagiku mmelihat Minho seperti ini setelah mendengar yang dikatakan dokter kalau Minho tak mempunyai waktu yang banyak.
“Annyeong hasseo” ucap ke empat Namja itu serentak
“Minho Hyung.. kemana saja kau? Kau sudah berubah sekarang, kau tidak memberitahu kami kalau kau sudah pulang” gerutu maknae Taemin
“Ya! Taemin-ahh.. jangan seperti itu terhadap Minho. Minho apa kau sudah merasa baik?” Tanya Onew Oppa
“Ne Hyung” jawab Minho singkat dengan senyuman
“Aigggooo! Apa kedatangan kita mengganggu kalian berdua?” Tanya Jonghyun Oppa
“Anio Oppa, tentu saja tidak” jawabku sambil menggelengkan kepala
Sepertinya kedatangan mereka kesini membuat Minho merasa lebih baik lagi. Terlihat dari senyuman dan tawaan kecil yang terajut di pipinya. Tapi sepertinya aku belum mendengar Key berbicara, Key hanya terdiam dan menunduk saja. Sepertinya mereka tak memperdulikan waktu jika mereka bersama.
 Hari pun telah malam mereka semua pun pulang meninggalkan kami berdua. Setelah beberapa lama, Minho memintaku untuk membawanya ke pekarangn rumah sakit. Minho duduk diatas kursi roda yang ku dorong. Setelah sampai Minho memandangi langit dengan senyumnya, aku yang duduk disampingnya ikut memandang langit.
“Mianhe.. Jeongmal Mianhe Hyu rin” ucap Minho yang masih melihat kearah langit. Aku menegok kea rah Minho. “Aku berbohong padamu, tak ada pertunangan yang mengikat ku saat ini. Itu semua kulakukan untuk..”
“Tak apa Minho, aku tahu apa alasanmu hingga kau berbohong padaku” ucapku memotong pembicaraannya.
“Jadi.. kau mengetahuinya?” Tanya Minho sambil melihat ke arahku
“Minho.. apayang ada dipikiranmu itu? apa kau pikir aku akan meninggalkanmu setelah aku mengetahuui semuanya?  bagaimana pun keadaanmu, aku akan tetap menerimamu. Di saat kau sehat maupun sakit aku akan tetap ada disampingmu. Karena aku menyayangi Minho”
Minho melihat kearahku dan menatap mataku, tatapan itu membuat jantungku berdegup kencang. “Saranghae Hyu rin…” ucapnya. Wajah Minho pun mendekat kearahku, dan lebih dekat lagi, hingga bibirnya menyentuh bibirku. Aku memejamkan mataku seketika, ciuman ini tak lama tapi ini  akan menjadi kenangan terindah untukku. Minho pun mengakhirinya dengan lembut, dan menatap mataku lagi.
“Hyu rin.. maafkankan aku jika itu membuatmu sakit hati. Tapi aku tak mau melihatmu sedih karenaku, karena waktuku tak lagi banyak Hyu rin.. aku hanya ingin memberikan kenangan terindah untukmu” ucapnya lirih, tiba-tiba air mata ini jatuh membasahi pipiku.
“Mengapa kau menangis Hyu rin?” tanyanya sambil menghapus air mata di pipiku
“tidak Minho.. semua kenangan yang kau berikan adalah kenangan terindah untukku” ucapku di sela tangisku sambil tersenyum.
Minho pun kembali tersenyum padaku, tapi senyuman itu hilang karena Minho terbatuk. Batuk itu menghasilkan darah yang segar keluar dari mulutnya. Aku pun terkejut melihatnya, dan langsung membawanya kembali ke ruang perawatan.
***
                Aku tak percaya, sesorang yana ku sayangi kini telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya. Air mata ini tak henti-hentinya mengalir di pipiku hingga mataku terasa pedih. Kali ini tak hanya aku yang menangis semua orang yang menyayanginya menangis dihadapanny, berharap tak ada kejadian seperti ini.
                Kini tak ada lagi senyuman manis yang terlontar dari bibirnya, tak ada lagi suara yang memanggil ku ‘Chagia’ seperti dulu. Mengapa kau pergi begitu cepat? Aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu Minho. Aku tak mampu mengatakan apapun, melihat batu nisan yang tertera namamu disana dan bunga yang kutaburkan di atas tumpukan tanah ini.
 Minho apakah kau tahu? Surat terakhir yang kau buat untukku adalah surat terindah dari surat-surat cinta yang pernah kau berikan untukku, aku janji.. aku tak akan membuatmu sedih disana,kau akan melihatku bahagia. Aku akan selalu hidup bahagia bersama kenangan yang telah kau berikan untukku.
‘Gomawwo.. kau telah memberikan kenangan yang indah untukku  Istirahatlah dengan tenang disana Chagia,aku tak akan melupakanmu,  aku akan selalu menyayangimu Choi Minho’
‘Selamat jalan Minho, aku akan selalu merindukanmu disini’.

----- The End -----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar