Title : Your
Happiness Is My Happiness As Well (part 3 End)
Author : Icha putri
Cast :
·
Park Hyu Rin
·
Choi Minho
·
Kim kibum (key ‘SHINee’)
·
Lee Taemin
·
Lee JinKi (onew)
·
Kim Jonghyun
Genre : sad
romance, tragedy, friendship
Hello sobat girl, ini Fanfiction Part
3 End, tapi belum juga ada komentar L.
Girl jadinya bingung, FF buatan girl itu bagus atau jelek L. Please sobat girl
kalian koment FF yang terakhir ini.. ya.. ya!. Girl tunggu loh komentnya. Enjoy
to read this. J
“… Sengil cukhae ha.. mi… da.. Happy birthday Hyu…
Rin….” Suara lembut Key mengakhiri lagu yang ia nyanyikan dengan iringan
dentingan Piano yang di mainkan Jonghyun Oppa. Aku pun tersenyum ketika Key
yang melihat ke arahku dengan senyuman.
Aku sangat senang dengan semua
yang Key lakukan untukku, Key pun selalu ada disaat aku membutuhkannya. Key pun
turun dari mimbar tempat ia berada, Ku kira Key akan datang padaku, tetapi
tidak?. Key berjalan begitu cepat hingga menerobos orang-orang yang berada
dibawah mimbar, Key berjalan menuju pintu keluar. Tiba-tiba handphoneku
bergetar, ternyata ada Short Massage yang masuk ke handphoneku. ‘Datanglah kehalaman belakang rumahmu
sekarang’ begitulah isi dari pesan yang ku dapat, tak ada nama dari
pengirimnya, hanya ada nomor telephone yang tertera di atasnya. Aku pun ragu untuk datang kesana, tetapi aku penasaran,
rasa penasaran ini begitu besar, sehingga mengalahkan rasa takutku itu. Aku
pun memantapkan hati ku untuk menuruti
rasa penasaranku dan melangkah perlahan.
Kulihat dari sudut ke sudut di
halaman belakang, tapi tak ada satu orang pun. Aku pun menyusuri halaman
rumahku itu untuk memastikan ada seseorang yang memang benar mengirimkan peasan
itu. Apakah itu Minho? Ahhh ani.. yang benar saja kau Hyu rin, tidak mungkin
Minho yang mengirimkan pesan itu. Batang hidungnya saja pun tak terlihat sejak
awal acara pesta ini, padahal aku sudah memintanya untuk datang.
“Hyu rin-aah.. ternyata kau
datang juga” ucap seorang Namja yang suaranya berasal dari belakang ku. Sontak
aku langsung membalikan badanku.
“ahh.. Key? Sedang apa kau
disini?
Key pun tersenyum padaku dan
berjalan mendekatiku “Akku orang yang mengirim pesan itu padamu”
“Mwoo? Jadi itu kau key?” ucapku
sambil mengerutkan dahi karena heran, “Ada apa kau menyuruhku kesini?”
Key tak langsung menjawab
pertanyyanku itu. Namja itu melangkahkan kakinya untuk mendekatiku lagi, lebih
dekat dan lebih dekat lagi
“Hyu rin-ahh.. kau adalah seorang
Yeoja yang cantik, baik dan juga seorang Yeoja yang manis. Hanya orang bodohlah
yang menyianyiakan dirimu ini. “ ucap key sambil menaruh kedua tangannya di pipiku “Minho adalah
seorang yang Namja yang sangat beruntung, karena dia bisa memilikimu Hyu rin,
tapi ia adalah seorang Namja yang sangat bodoh karena melepasmu begitu saja”
Aku pun terkejut mendengar ucapan
Key itu. Bagaimana Key bisa mengetahuinya? Sedangkan aku tidak pernah cerita
dengannya.
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya
Key?”
“ahh… sebenarnya akulah yang
menyuruh Minho untuk datang ke taman malam itu, jadi aku juga berada di taman
malam itu, karena aku takut kalau Minho tak menepati janjinya untuk datang ke
taman. Mianhe Hyu rin.. aku sudah
mengikutimu” jelas Key yang merasa tak enak denganku.
“a aaahhh… Ye. Tak apa Key”
jawabku singkat.
Tangan dingin yang ku rasakan dipipiku,
membuat jantungku berdetak cepat. Wajah
Namja itu pun mendekati wajahku, Ya tuhan! Apa yang akan dia lakukan?. Tiba-tiba hening seketika, suasana ini begitu
sepi hingga suara gemericik air kolam pun terdengar jelas, tak ada satu pun
orang yang disini kecuali aku dan Key
saat ini.
“Saranghae Hyu rin-ahh”
Aku terkejut ketika Key
membisikan kata-kata itu di telingaku, Key membisikannya dengan lembut, sangat
lembut, hingga aku merasakan sendiri kelembutan itu. Apa yang harus kukatakan?
Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai sahabatku. Bibirku terkunci takbisa
mengatakan apa-apa saat itu. Key pun memegang tengkuk leherku, lagi lagi Key
mendekatkan wajahnya itu. Ya tuhan? Apa yang harus kulakukan sekarang? Jika ku
menolaknya, aku akan melukai hatinya? Tapi…., aku hanya mencintai seorang Namja
bernama Minho, Choi Minho. Bibirku masih terkunci, dan sekarang lebih rapat
lagi, aku memejamkan mataku dengan erat, sangat erat, Tapi.. tak ada sesuatu
yang menyentuh bibirku. ‘Muach’ bunyi
kecupan yang Key berikan di keningku, aku pun membuka mataku perlahan dan
melihat kea rah Key.
“Mianhe Hyu rin, aku sudah
memaksamu seperti ini. Apa yang ingin kulakukan? Jelas-jelas aku tahu kalau kau
hanya mencintai Minho, Sahabat macam apa aku ini?” ucap Key sambil mengalihkan
pandangannya kea rah yang lain.
Apa yang sedang terjadi sekarang?
Bibirku tetap tak bisa ku gerakan? Terasa kaku, sangat kaku. Padahal banyak
sekali yang ingin kukatakan padanya.
“ahh.. Hyu rin-ahh bisakah kau
melupakan kejadian malam ini? Anggaplah kejadian malam ini tak pernah terjadi
di kehidupanmu” ucap Key sambil tersenyum padaku. Ya walaupun Key tersenyum
tapi itu adalah senyum kebohongan yang terajut di bibir kecilnya. belum sempat
ku berbicara, Key langsung melanjutkan bicaranya.
“Dimana jonghyun Oppa dan yang
lainya? Aku tak melihatnya, mungkin mereka sudah pulang meninggalkanku.
Baiklah.. Hyu rin-ahh sepertinya aku harus pulang sekarang. Gommawo untuk
pestanya malam ini, anneyong..” ucap Key sambil melihat kearah pintu, lagi lagi
aku telat untuk mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal untuknya, Key pun
langsung berlari kecil kearah pintu
untuk keluar dari halaman.
***
Malam ini udara begitu sangat
dingin, di banding malam-malam yang lain. Angin menerpa tubuhku yang sedang bersandar di pagar yang berada di
taman ini. Gemerlap air danau yang terkena sinar rembulan yang indah dan Semilir
angin ini membuat suasana menjadi indah. Seharusnya aku tak melakukan ini,
datang kembali ketempat ini dan mengingat kenanganku bersamanya. Apa yang kulakukan?
Apakah jika ku mengingat kenangan itu dia akan kembali padaku? Tidak Hyu
rin-ahh.. aku memang seorang Yeoja yang sangat bodoh.
Dia sudah bertunangan sekarang,
mendapatkan seorang Yeoja yang ia impikan, dan dia akan hidup bahagia
bersamanya. Sudah cukup untukku
mengenang kenangan yang indah namun menyakitkan itu, aku pun menyusuri jalan
panjang yang begitu sepi. Aku pun menyusuri jalan itu dengan tatapan kosong
dengan kepala yang menunduk, Tiba-tiba ada tiga Namja yang muncul dihadapanku,
tiga Namja itu berbadan besar, berpakaian tak rapih itu menghalangi jalan ku.
Mereka mendekatiku, dan
mengepungku hingga aku berada ditengah-tengah mereka. Aku berusaha untuk
berlari membebaskan diri tapi salah satu seorang Namja itu menarik tanganku
dengan cepat.
“Lepaskan tanganku!” ucapku
sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Namja itu
“Tidak! Sebelum aku mendapatkan
yang aku mau” ucapnya sambil menggenggam tanganku lebih kuat, Namja yang
lainnya berusaha untuk menarik baju yang ku kenakan tapi aku melawannya.
“Tolonggg……..!” teriakku, berharap ada seseorang yang dapat
membebaskanku, tapi teriakan itu pun tak berguna, tak ada orang disini.
Mereka menarik baju hangatku
dengan keras, hingga aku terjatuh. Tubuhku bergetar dan lemas, hingga aku tak
berdaya, dengan sisa kemampuanku ini aku terus berusaha untuk menhindar tapi
apa daya. Mereka terus mendekatiku, Ya Tuhan apa yang akan terjadi? Aku berusaha untuk memberontak tapi mereka
lebih kuat dariku. Tak ada yang bisa
kulakukan, air mataku mengalir begitu deras, aku pun menutup mataku memasrahkan
apa yang akan terjadi padaku.
‘bruk’ aku mendengar suara
pukulan pukulan yang keras. Aku pun membuka mataku untuk melihat apa yang
sedang terjadi. Aku melihat seorang
Namja berpostur tubuh yang tinggi yang sedang memukuli salah satu Namja yang
berusaha untuk menggangguku tadi.
Minho? Apakah itu Minho? Sedang
apa dia disini?. Tiba-tiba dua Namja yang semula memegangiku dengan cepat
mereka memukuli Minho. Tanpa bekal beladiri, perlawanan Minho tak berarti.
Dalam hitungan detik dia tumbang. Mereka memukul wajah Minho, menendangnya,
bahkan mereka menggunakan benda tumpul untuk menghajarnya.
Apa yang bisa kulakukan sekarang?
Aku hanya bisa menangis, Air mataku tak
henti-hentinya mengalir melihat Minho dipukuli seperti itu. aku pun meraih tas
yang berada disampingku, aku mulai mencari kontak Key di Phonebook ku, dan
mengirmkan pesan untuknya.
Akhirnya tiga Namja itu pergi,
setelah salah satu dari mereka menerima
telepon. Tapi mereka tidak langsung pergi begitu saja, mereka memberikan
pukulan keras terakhir diwajah Minho.
Darah segar yang keluar dari mulutnya, membuat Minho sesak untuk bernafas. Aku pun
mendekatinya, dan menarik kepala Minho kepangkuanku. Air mataku terus mengalir
hingga membasahi wajah Minho yang penuh luka memar dan darah. Minho berusaha
untuk membuka matanya dan melihat kearahku.
“Hyu rin-ahh…” ucapnya lirih, dan
tersennyum padaku. Aku pun tersenyum di sela isakan tangis ku. Aku mendekap
Minho dengan erat, sangat erat.
***
Tubuh Minho terbaring lemas
diatas tempat tidur electric yang berada di rumah sakit, dengan alat bantu
untuk bernafas yang terpasang dihidungnya dan
alat-alat lainya yang berada di sampinya. Aku berjalan lemas
mendekatinya, dengan air mata yang berusaha membasahi pipiku lagi.
Dengan menggunakan baju berlengan
pendekseperti ini, luka memar yang ada
ditubuhnya terlihat begitu jelas, hampir disekujur tubuhnnya terdapat luka
memar. Aku meraih bangku yang ada disampin tempat tidur itu, dan duduk di
sebelahnya. Entah bagaimana ini semua terjadi padanya? Aku sempat tak percaya
dengan apa yang dikatakan dokter tadi.
Bagaimana mungkin, tubuh yang
segar itu, mengidap penyakit yang sangat berbahaya, dan bisa mematikan. Kanker
darah yang sangat kronis berada di dalam tubuh Minho selama 2 tahun terakhir
hingga saat ini. Ku raih tangan yang pucat itu, dan ku genggam erat, ‘tidak.. tidak mungkin. Minho adalah orang
yang kuat, aku yakin dia pasti akan
kembali seperti dulu’ ucap ku dalam hati sambil meyakinkan diriku sendiri.
Jari-jari itu mulai bergerak, Minho berusaha untuk membuka matanya dan
memandangi setiap sudut kamar.
“Minho.. apa kau sudah sadar?”
ucapku sambil tersenyum senang
Mata Minho pun memutar ke arahku
“Hyu rin-ahh” ucap minho dengan suara yang sangat pelan.
“Syukurlah, gwenchana Minho?”
“Ne Hyu rin, gwenchana.. hanya
sedikit merasakan sakit di pundakku” jawabnya sambil merintih “Hyu rin-ahh..
bagaimana bisa kau lakukan itu? datang ketempat itu lagi? Apakah kau lupa,
disaat musim dingin seperti itu tempat itu sepi sekali” ucapnya lirih
Aku terdiam, tak menjawab apapun.
Minho melihat keara tanganya, melihat tanganya yang masih ku genggam, sontak
aku langsung melepas genggaman itu dan mulai menjawab pertanyaanya “aku akan
melupakan semua kenangan kita, dan aku akan memulainya dari sana” ucapku sambil
tersenyum miris. “Sepertinya kau membutuhkan banyak istirahat Minho. Baiklah..
aku akan pulang sekarang, mungkin sebentar lagi eomma-mu akan datang” ucapku
sambil melihat jam tangan yang kupakai dan beranjak dari kursi itu.
“Tetaplah disini Hyu rin,
tetaplah disampingku. Jebal.. jangan pergi” suara yang lirih dan tangan yang
dingin itu berusaha untuk menahanku pergi.
***
Senyuman yang tak pernah ku lihat
lagi kini kembali mengembang di bibir Namja itu. Aku tak pernah melewatkan jam
besuk yang diberikan oleh rumah sakit itu. Kali ini aku membawaknnya bubur
Aballone buatanku sendiri dan membantunya makan bubur itu.
“a.. ..a… bukalah mulutmu ada
kapal yang ingin masuk” ucapku sambil menyodorkan sesendok bubur itu.
Minho pun tersenyum “Hyu rin-ahh
aku bukan lagi anak kecil sekarang” ucapnya
Aku pun tertawa kecil
mendengarnya. Suatu keajaiban bagiku mmelihat Minho seperti ini setelah
mendengar yang dikatakan dokter kalau Minho tak mempunyai waktu yang banyak.
“Annyeong hasseo” ucap ke empat
Namja itu serentak
“Minho Hyung.. kemana saja kau?
Kau sudah berubah sekarang, kau tidak memberitahu kami kalau kau sudah pulang”
gerutu maknae Taemin
“Ya! Taemin-ahh.. jangan seperti
itu terhadap Minho. Minho apa kau sudah merasa baik?” Tanya Onew Oppa
“Ne Hyung” jawab Minho singkat
dengan senyuman
“Aigggooo! Apa kedatangan kita
mengganggu kalian berdua?” Tanya Jonghyun Oppa
“Anio Oppa, tentu saja tidak”
jawabku sambil menggelengkan kepala
Sepertinya kedatangan mereka
kesini membuat Minho merasa lebih baik lagi. Terlihat dari senyuman dan tawaan
kecil yang terajut di pipinya. Tapi sepertinya aku belum mendengar Key
berbicara, Key hanya terdiam dan menunduk saja. Sepertinya mereka tak
memperdulikan waktu jika mereka bersama.
Hari pun telah malam mereka semua pun pulang
meninggalkan kami berdua. Setelah beberapa lama, Minho memintaku untuk
membawanya ke pekarangn rumah sakit. Minho duduk diatas kursi roda yang ku
dorong. Setelah sampai Minho memandangi langit dengan senyumnya, aku yang duduk
disampingnya ikut memandang langit.
“Mianhe.. Jeongmal Mianhe Hyu
rin” ucap Minho yang masih melihat kearah langit. Aku menegok kea rah Minho.
“Aku berbohong padamu, tak ada pertunangan yang mengikat ku saat ini. Itu semua
kulakukan untuk..”
“Tak apa Minho, aku tahu apa
alasanmu hingga kau berbohong padaku” ucapku memotong pembicaraannya.
“Jadi.. kau mengetahuinya?” Tanya
Minho sambil melihat ke arahku
“Minho.. apayang ada dipikiranmu
itu? apa kau pikir aku akan meninggalkanmu setelah aku mengetahuui semuanya? bagaimana pun keadaanmu, aku akan tetap
menerimamu. Di saat kau sehat maupun sakit aku akan tetap ada disampingmu.
Karena aku menyayangi Minho”
Minho melihat kearahku dan
menatap mataku, tatapan itu membuat jantungku berdegup kencang. “Saranghae Hyu
rin…” ucapnya. Wajah Minho pun mendekat kearahku, dan lebih dekat lagi, hingga
bibirnya menyentuh bibirku. Aku memejamkan mataku seketika, ciuman ini tak lama
tapi ini akan menjadi kenangan terindah
untukku. Minho pun mengakhirinya dengan lembut, dan menatap mataku lagi.
“Hyu rin.. maafkankan aku jika
itu membuatmu sakit hati. Tapi aku tak mau melihatmu sedih karenaku, karena
waktuku tak lagi banyak Hyu rin.. aku hanya ingin memberikan kenangan terindah
untukmu” ucapnya lirih, tiba-tiba air mata ini jatuh membasahi pipiku.
“Mengapa kau menangis Hyu rin?”
tanyanya sambil menghapus air mata di pipiku
“tidak Minho.. semua kenangan
yang kau berikan adalah kenangan terindah untukku” ucapku di sela tangisku
sambil tersenyum.
Minho pun kembali tersenyum
padaku, tapi senyuman itu hilang karena Minho terbatuk. Batuk itu menghasilkan
darah yang segar keluar dari mulutnya. Aku pun terkejut melihatnya, dan
langsung membawanya kembali ke ruang perawatan.
***
Aku tak
percaya, sesorang yana ku sayangi kini telah pergi meninggalkanku untuk
selama-lamanya. Air mata ini tak henti-hentinya mengalir di pipiku hingga
mataku terasa pedih. Kali ini tak hanya aku yang menangis semua orang yang
menyayanginya menangis dihadapanny, berharap tak ada kejadian seperti ini.
Kini
tak ada lagi senyuman manis yang terlontar dari bibirnya, tak ada lagi suara
yang memanggil ku ‘Chagia’ seperti dulu. Mengapa kau pergi begitu cepat? Aku
masih ingin menghabiskan waktu bersamamu Minho. Aku tak mampu mengatakan
apapun, melihat batu nisan yang tertera namamu disana dan bunga yang kutaburkan
di atas tumpukan tanah ini.
Minho apakah kau tahu? Surat terakhir yang kau
buat untukku adalah surat terindah dari surat-surat cinta yang pernah kau
berikan untukku, aku janji.. aku tak akan membuatmu sedih disana,kau akan
melihatku bahagia. Aku akan selalu hidup bahagia bersama kenangan yang telah
kau berikan untukku.
‘Gomawwo.. kau telah memberikan kenangan yang indah untukku Istirahatlah dengan tenang disana Chagia,aku
tak akan melupakanmu, aku akan selalu
menyayangimu Choi Minho’
‘Selamat jalan Minho, aku akan selalu merindukanmu disini’.
----- The End -----

Tidak ada komentar:
Posting Komentar